Bawalah Menjadi Doa

Bawalah yang kita inginkan, yang kita impikan, yang kita cita-citakan menjadi doa. Niscaya, sebelum dikabulkannya pun, sudah menjadi satu bentuk ibadah di sisi Allah.

Segala sesuatu itu pergi dan tidak kembali lagi kecuali doa. Apa yang kita inginkan tidak akan menjadi apa-apa bahkan mungkin menjadi nafsu yang mencelakakan jika kita tidak membawanya sebagai doa.

 

Riyadhah 100 Hari

wpid-fotografer-tanpa-kaki_2014-09-05-12-07-15_640x321-kevin.jpg.jpeg

Ada yang sedang butuh banget pertolongan Allah? Coba hajar dengan 1000 shalawat atau lebih. Shollawloohu ‘alaa Muhammad, cukup. Coba 100 hari.

Benerin shalatnya, di masjid jangan di rumah. Berjamaah. Lengkap dengan qobliyah ba’diyah. Tambah shalat Dhuha dan Tahajjud. Coba juga 100 hari.

Baca Qur’an sambil dibaca terjemahannya. Siapin kertas, siapin pulpen untuk nulis-nulis yang ditemukan. Lakukan selama 100 hari. Continue reading

Minder, mau jadi Milyader?

rasa percaya diri

Sejenak ide hilang dari pikiran saya…karena sibuk, ,, sibuk nyimak twitter hehe… Ada yang lagi promosi produk, ada yang lagi nyemangatin follower, ada yang ngebahas hacking, ada pula yang melucu. Begitulah saat ini isi timeline twitter saya. Selain teman, saya memfollow jg beberapa motivator, pengusaha. berharap menimba ilmu dari mereka.

Menarik memang mengikuti te real story mereka. Ternyata tidak sedikit pula orang sukses yang dulunya hidup serba kecukupan (cukup makan 1 hari skali, bahkan tidak makan). Yang bangkrut berkali-kali. Yang dulu sering di hina, dicaci, bahkan dianggap orang gila. BANYAK ternyata. Dan yang menarik, ada juga orang sukses, yang skarang jadi motivator muda, yang terkenal dengan jurus “OTAK KANAN”nya, ternyata dulunya adalah seorang pemalu, minder dan penyakitan!….hehe(maaf nih Pak” Ippho”, bukan ngejek,,,tapi anda memang LUAR BIASA).

Ngomongin tentang minder, saya dulunya juga seorang minder loh. Pemalu, tidak suka basa basi, sering grogi kalo disuruh tampil dimuka. Malah banyak yang ngatiin saya itu DINGIN kek GUNUNG ES..hehe. Yah, karena kalo pas jalan ga’ kenal tolah-toleh, cuman nunduk jalan lurus kedepan. Ga’ mikir di samping kanan kiri ada orang yang lebih tua sedang duduk, atau mungkin ada kecelakaan, ahhh bodo amat, sakit juga badan lo sendiri….waktu itu 😀 Fyufff, kalo diinget menyedihkan sekali sikap seperti ini, sungguh ter…la….lu..!

Sampai pada suatu saat, waktu yang teramat singkat tapi terasa seperti tamparan luar biasa. Waktu itu saya sedang memarkir motor, lewat persis di depan pos satpam. Seperti biasa saya hanya lewat tanpa sapaan atau bahkan sekedar senyuman. Waktu itu saya cuman merasa, kok sepertinya gerombolan orang di pos satpam itu sedang ngomongin saya ya! Benar ternyata, seorang teman saya menghampiri saya dan langsung nyeletuk”…hey, kata Pak Satpam kamu itu SOMBONG..!, lewat aja ga nyapa..!”.

Saya diam sejenak, tak komentar sepatah katapun. Seolah tamparan begitu dahsyat dari seorang Satpam, yang saya juga tidak tau namanya. Tiba-tiba hari itu terasa berbeda, ia lebih sempit, lebih sempit dan cepat. Saya yang dahulunya tak begitu menghiraikan perkataan orang lain, namun saat itu terasa begitu berbeda.

Malam hari saya merenung, saya benar-benar ingin menyendiri. Saya ingat-ingat kembali setiap kejadian siang tadi. Perlahan saya cari penyebab semua itu terjadi. Ternyata, Saya jarang menyapa orang lain di jalan, karena saya minder, saya terlalu pemalu. Seolah semua orang memperhatikan saya ketika saya berjalan. Saya terlalu takut orang lain melihat “saya salah” melakukan suatu hal. Saya terlalu takut resiko ini, itu, yang sebetulnya itu amatlah membelenggu pikiran saya.

Seminggu setelah kejadian.
Saya mendengar kabar bahwa rumah Pak Satpam kena banjir. Saya memutuskan untuk ikut terjun langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan bersama teman-teman yang lain. Alhamdulillah, di rumah kecil yang sangat sederhana itu saya berjumpa dengan Pak Satpam. Saya bersalaman dengan beliau, kemudian saya peluk tubuh tuanya yang tertutup baju basah akibat rendaman air banjir semalam. Saya menanyakan kabar, kemudian saya sampaikan rasa terimakasih atas pengingatannya.

Beberapa tahun setelah kejadian itu.
Kini rasanya beda, saya lebih Percaya Diri. Saya lebih mudah tersenyum kepada orang lain. Lebih mudah menyapa meski tak kenal siapa. Dengan 5 S, senyum, salam, sapa, sopan, santun, saya lebih bisa membuka diri. Saya lebih bisa menambah relasi, dengan begitu bertambahlah rezeki. Saya lebih berani bermimpi, bermimpi besar sekalipun. Dan saya yakin, mimpi itu satu persatu bisa saya raih…! So, GA’ PERLU MINDER SOB..! ….. katanya mau jadi MILYADER…!

Menulispun Tak Mampu?

Harusnya menulis itu tidak akan kehabisan ide, karena setiap saat, setiap kejadian bisa kita tuliskan, itu sumber ide. Menulis itu dari hati, kalau ingin menulis ya menulis aja, ga’ usah terbebani ini itu, tidak perlu berfikir tulisan kudu bagus kudu baik. Itu semua urusan nanti.

Hyufff,,, itulah beberapa nasihat dari sahabat penulis (blogger) yang saya kenal. Nasihat-nasihat itu sebenernya bukan kali pertama saya dengar, dengan kata lain, sudah berkali-kali saya dengar. Tapi apa yang terjadi saat ini, ada apa dengan saya? Sepatah kata entah enggan tersapa. Sederet kalimat sungguh sulit tersurat.

Masih bertanya pada diri, mengapa hanya sekedar menulis saja tak mampu? Padahal tanpa terbebani “harus baik”, “harus berkualitas”, “harus ini”, “harus itu”…. TIDAK…!

Yang lebih menyedihkan ketika saya juga sulit menuliskan target-target mingguan, sulit menyusun rencana tuk gapai cita.

Ya, selama beberapa hari, saya hanya hanyut dalam rutinitas seperti tak bermakna. Dan masih bertanya, “mengapa aku tak bisa menulis?”.

Ya Rabb… lirih terdengar, namun begitu kuat terasa, hati nan pasrah pada yang mencipta.

Satu per satu saya ingat detail hari-hari yang berlalu. Tiap kegiatan kemudian makin nampak dihadapan.

Ya Rabb, semakin teringat, semakin sedih. Ada beberapa aktifitas yang terlupa atau sengaja dilupakan, kemudian entah darimana muncul pertanyaan…

“sudah berapa lembar ayat Tuhanmu yang kau baca hari itu?”
“berapa kali kau berkumpul, berjama’ah dengan saudaramu di rumah Tuhan?”
“berapa rupiah HAK orang lain atas hartamu yang kau tunaikan atasnya?”
“mana dzikir pagi dan petangmu?”
“sudahkan kau penuhi kebutuhan jasadmu, atau kau dzalimi tanpa memperdulikannya, tanpa olahraga?”
“mana….mana…yang lain…?”

Ya Rabb, itu baru secuil amal tertinggal, namun Kau ingatkan begitu dahsyat dengan terbungkamnya fikir. Bagaimana jika sebongkah amal dilupakan?

Kemudian melalui aktifitas menulis itu, terbongkarlah sebelah jurang penghadang. Ternyata menulis bisa jadi parameter kondisi hati dan amal yaumi. Ketika ia terkurang menulispun serasa meregang, pun juga kebaikan sukar tertuang.

Agar Percaya Diri Meninggi Saat Menanti

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan walimahan seorang temen. Pas ngeliat nama calon mempelai pria, eh ternyata temen seangkatan juga. Spontan saya sms, yah “localhost” lagi. Arti sebenarnya dari “localhost” sih ini, tapi bagi kita, kata “localhost” sering dijadikan sebutan buat yang pasangan nikahnya ternyata temen 1 jurusan waktu kuliah. Dengan nada santai temen saya tadi jawab” Lha jodohnya di localhost piye nho….Mau nge-ping keluar ga’ dapet sinyal balik je…”….hedehhh.

Alhamdulillah, bahagia rasanya mendengar berita tersebut, cuman kalo inget diri sendiri, jadi prihatin.hehe….knapa emang, kenapa ya? Continue reading

Cinta, Jangan Kau Pergi

Mengendurnya sendi-sendi hati, makin menjadi. Entah karena kecewa, jenuh dan tidak tahu, atau bahkan pencampuran antara ketiganya. Faktor internal, eksternal, apalah yang yang lain. Yah, semua terasa hambar, ketika kau pergi. Kata dengan perbuatan tak lagi bersinergi jadi sebuah aksi terpuji. Semua jadi tak terdaya. Adakah terasa sama dengan suasana hati saat ini?

Terbacalah cerita, “Sebuah Dialog Selepas Malam” Continue reading