Pelajaran di Kaki Lima

Seorang mahasiswa berjalan agak tergesa-gesa. Langit yang berawan semakin gelap. Hujan sebentar lagi akan segera turun. Dia berharap secepatnya sampai di kost. namun hujan turun dengan deras, hanya beberapa ratus meter dari kontrakannya. Hatinya sedikit kesal. Untungnya ada tenda penjual HIK yang bisa jadi tempat berteduh. Alhamdulillah penjual hik dengan ramah mempersilahkan ia masuk ke tenda.Untuk memecah kesunyian di tengah derasnya suara air hujan, pemuda tersebut ngobrol dengan penjual hik “Wah hujannya tambah deras nih Pak, orang-orang makin jarang yang keluar rumah. Jadi sedikit yang beli ya Pak?” Rezekinya jadi berkurang donk?” Bapak itu menoleh kearahnya sambil berkata, “Iya Dik, jadi sepi nih dagangan saya. Tapi gusti Allah ora sare Dik, (Allah itu tidak pernah tidur). Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat mengairi sawah. Meskipun sawahnya tidak luas, cukup untuk kebutuhan makan. Sementara anak saya yang disini pasti tambah rezeki dengan ngojek payung, apalagi kalau sampai besok masih hujan…”

Jawaban penjual hik tersebut membuat hatinya tergetar. Buru-buru ia beristighfar karena hatinya sempat kesal dengan hujan yang baru saja turun. Dia yakin selalu ada hikmah atas setiap peristiwa. Tertahannya di tenda penjual hik telah memberikan pelajaran besar kepada dirinya tentang kehidupan, yang belum tentu ia dapatkan di bangku kuliah. Ada hikmah besar yang terkadang kita dapat dari peristiwa kecil.

Musim hujan telah tiba, ada banyak orang yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima mengeluh karena omset mereka menurun, tidak sedikit ibu-ibu yang mengeluh karena sulit mengeringkan baju yang dijemur. Sementara pekerja penglajo seperti saya juga semakin repot karena kemana-mana harus memakai jas hujan, motor dan mobil juga mudah kotor.

Namun, jawaban Bapak penjual hik tersebut menyadarkan kita semua, bahwa Allah Maha Adil.Dibalik turunnya hujan, dibalik banyak orang yang sedikit terganggu aktifitasnya, ada banyak petani yang demikian gembira, karena telah lama menanti datangnya hujan. Musim penghujan adalah masa panen bagi mereka yang memiliki usaha loundry maupun jasa cuci mobil motor karena banyak masyarakat yang membutuhkan jasa mencuci.

Allah SWT di dalam salah satu ayat mengingatkan kepada kita, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air[hujan] dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segla buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”[Q.S.Al Baqoroh:22]

Ayat diatas memberitahukan kepada kita, bahwa dengan air hujan tersebut bumi menjadi hidup, banyak tumbuh-tumbuhan yang kemudian berbuah. Oleh karena itu, hujan pun harus tetap kita syukuri, karena banyak sekali rahmat dan rezki yang diberikan Allah melalui hujan. Walaupun hujan deras datang menghampiri, kita harus tetap menyambutnya dengan penuh rasa syukur, hanya kepada-Nya. Curahan hujan sebagaimana penjelasan Allah di dalam surat Al Baqoroh tersebut adalah curahan rahmat dari Allah. Namun, ditahun-tahun terakhir ini kita menyaksikan curah hujan juga mendatangkan curahan air mata. Curah hujan yang tinggi mendatangkan banjir d mana-mana.Apakah hujan selain membawa rahmat juga bermakna mrmbawa bencana?

Tidak pernah kita temukan di dalam Al Qur’an maupun hadits yang menjelaskan bahwa turunnya hujan berarti tanda awal turunnya bencana. Namun, Al Qur’an mengabarkan bahwa bencana datang karena akibat ulah tangan manusia. Allah SWT berfirman, ” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, adakanlah perjalanan di muka bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar Ruum : 41-42).

Terjadinya banjir dan tanah longsor yang menelan korban ribuan nyawa, adalah karena ulah tangan manusia yang dengan sewenang-wenang menggundul hutan, membuang sampah di sembarang tempat, tidak mematuhi tata aturan dalam mempertahankan daerah resapan air, pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan dan tindakan-tindakan ceroboh lainnya.

Aturan berupa undang-undang maupun perda sudah banyak diterbitkan, namun semua aturan tersebut seolah-olah dibuat untuk dilanggar. Mereka lupa bahwa Allah ora sare. Allah SWT tidak pernah berhenti mencatat semua ulah manusia pembuat kerusakan tersebut. Allahu a’lam

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s