KESULITAN, Membakar lalu MENCAHAYAI

Sebagai seorang muslim, kita harus faham bahwa kehidupan adalah ujian dan ujian adalah bagian dari kehidupan. Seperti dalam firman Alloh QS Al Baqarah 155: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”. Itu adalah penegasan Alloh tentang kepastian ujian berupa kesulitan hidup yang mengenai kapan dan seberapa besar, tidak akan diketahui oleh manusia.Seringkali manusia memahami dan menganggap kesulitan sebagai penderitaan yang harus disesali. Manusia tidak memahami, bagaimana kesulitan ditempatkan sebagai ujian untuk kepentingan semata. Atau, bisa menerima kesulitan sebagai ujian tetapi hanya mengharap keuntungan saat itu juga. Mau menerima ujian namun hanya yang sesuai dengan keinginan. Layaknya seorang mahasiswa yang mengharap diuji untuk mendapatkan ijazah. Harapannya, dengan ijazah, si mahasiswa bisa mendapatkan pekerjaan.

Padahal ada esensi yang lebih penting dalam kesulitan. Yaitu bahwa Alloh ingin meninggikan derajat (grade) manusia. Jika hal ini dipahami, manusia akan mampu “menikmati” ujian, karena yakin bahwa setelah itu, Alloh akan menaikkan derajatnya. Tidak akan mungkin selamanya manusia akan berada dalam kesulitan.

Alloh meninggikan derajat manusia dengan kesulitan mengandung dua pengertian. Secara maknawi (berkaitan dengan psikis, ruhiyah, tidak bisa dipisahkan secara langsung) yaitu misalnya berupa memperkuat keimanan, keyakinan, membentuk konsep diri yang utuh dan tidak terpecah-pecah dalam memahami sesuatu. Kemudian secara hissiy (bisa dirasakan secara langsung) yaitu bahwa bagi yang sabar atas kesulitan akan mendapatkan pertolongan Alloh. Misalnya orang yang mendapatkan kesulitan berupa kekurangan harta (fakir), jika dia faham makna kesulitan sesungguhnya, berusaha, menikmati terus menerus pastilah Alloh akan memberikan yang terbaik baginya. Bisa kehidupan yang lebih baik atau dibuka pintu rizki yang lain.

Jadi menemukan Alloh adalah memahami dengan tepat dan menerima ketetapan Alloh, kemudian menyikapinya dengan sabarmeskipun wajar dan manusiawi jika sedikit ada kekhawatiran. Sabar menghadapi musibah (kesulitan), sabar dalam ketaatan dan sabar untuk tidak berbuat maksiat. Meresapkan qoddarallahu wamaa sya’afata’an (Alloh telah mentaqdirkan dan apa yang Dia kehendaki sudah dilakukan) dalam jiwa.

Tiga prinsip yang bisa dirangkum dalam menyikapi setiap kesulitan yang menimpa kita, yaitu :

1) Meyakini bahwa Alloh telah berketetapan atas kehidupan kita. Tidak perlu resah gelisah. Alloh memberi yang terbaik. Tugas kita menjalani sesuai aturan Alloh.

2) Alloh memberi ujian karena sebab dan tujuan tertentu. Kita harus coba memahami sebab dan tujuan ini. Pertama mungkin Alloh ingin menghapus kesalahan kita. Kalau Alloh membiarkan kesalahan kita bertumpuk, secara fitrah kita sendiri yang akan menderita. Kedua, tidak ada satupun musibah yang terjadi pada kita kecuali Alloh telah menyediakan sesuatu yang baik bagi kita baik di dunia atapun di akhirat. Sebuah hadits riwayat Muslim menyatakan “tidak akan seorang mukmin itu ditimpa rasa capek, rasa lelah, gundah, rasa sedih sampai dia tertusuk duri, kecuali ada fungsinya yaitu meleburkan semua kesalahan yang ia lakukan”.

3) Ujian itu adalah untuk meningkatkan derajat kita, jika kita jalani dengan sabar dan ridho.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan diri dalam kesulitan, diantaranya :

1) Mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, memperbanyak istigfar dan ibadah. Karena kesulitan mungkin saja tidak terlepas dari kesalahan kita.

2) Mendatangi orang-orang baik yang kita percaya (saudara, sahabat) untuk lebih menguatkan keadaan kita. Para sahabat menganggap bahwa saudara seiman adalah cermin akhirat, yang mengingatkan tentang akhirat. Tidak selalu ingat dunia saja.

3) Membaca Al Qur’an. Al Qur’an adalah syifa (penawar) bagi hati yang sedang resah.

4) Membaca buku-buku swabantu yang terkait dengan kesulitan yang dialami.

5) Mengunjungi teman/seseorang yang pernah mengalami musibah yang serupa. Orang lain juga banyak yang mengalami kesulitan, bahkan mungkin lebih berat.

Kata-kata hikmah Ibnu Aththailah Afsakan Dharani, bisa diresapi sebagai motivasi. “Barangsiapa yang kehidupannya dimulai dari sesuatu yang ‘membakar’ jiwanya, dia akan mengakhiri kehidupan dengan sesuatu yang akan ‘mencahayai’ dirinya”. Jadi kalau awal kehidupan kita merasakan kesulitan yang amat sangat, jangan kecil hati. Alloh telah menyiapkan sesuatu hal yang baik (faedah), asalkan ada keterikatan yang kuat dengan Alloh.

Oleh Ust. Budiman Musthofa, Lc

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s