Wilayah Hidup yang “Panas”

Subhanallah, sejuknya udara pagi menghulus di setiap sudut kampus. Memberikan inspirasi pada saya untuk kembali menuliskan sesuatu, ya, sesuatu yang saya dapatkan di kajian rutin NHIC UNS pagi itu, “Setiap pilihan pasti punya risiko, tantangan, ujian dan fitnah yang berbeda-beda”. Sebuah intisari yang mewakili kondisi saya atau mungkin juga kondisi sahabat saat ini. Begitulah drama kehidupan, tak bisa dipungkiri lagi ketika kita pernah berada dalam “wilayah hidup yang panas”. Maka ingatlah kita pada kisah tauladan dari Nabiyullah Yusuf AS. Sesosok pemuda yang dikenal mempesona penampilan fisiknya. Kisah yang secara utuh disajikan dalam Al Qur’an, Surat Yusuf.Sejarah kehidupan Yusuf AS memuat bertumpuk pelajaran sangat berharga, terutama tentang pergumulan seorang hamba Alloh SWT yang memiliki kekuatan iman berhadapan dengan wilayah-wilayah kehidupan yang “panas” dan penuh tantangan berat.

Lihatlah dalam keluarga, Yusuf kecil telah menjadi korban kekerasan yang dilakukan saudaranya sendiri. Nabi Ya’qub, orang tua Yusuf, dianggap terlalu berpihak kepada Yusuf, si bungsu. Disini, Yusuf mengalami persaingan antar saudara, iri hati, sekaligus kekerasan. Sesuatu itu yang akhirnya membuat Yusuf harus diceburkan ke dalam sumur tua, dalam sebuah usaha pembunuhan berencana.

Tetapi kondisi yang pahit itu, tak membuatnya putus asa. Setelah diselamatkan dari sumur oleh seorang musafir, Yusuf harus menjalani hidup keras menjadi budak. Bahkan ia harus berpindah tuan karena dijual oleh tuannya yang lama. Ia harus mengikuti satu majikan ke majikan yang lain. Sampai akhirnya ia menjadi pelayan di istana kerajaan Mesir. Di sana, Yusuf diuji lagi dengan kehidupan yang “panas”. Lantaran Zulaikha permaisuri raja tergila-gila dan mengajaknya menyeleweng. Tetapi dengan karunia Alloh, dan juga karena ketegaran iman Yusuf, ia bisa melalui semua itu dengan baik.

Akhirnya, Yusuf dijebloskan ke penjara tanpa bukti apapun yang menunjukkan dirinya salah. Ia dijebloskan ke penjara untuk memelihara wibawa dan status sosial kerajaan. Kerajaan pasti terganggu bila putusan pengadilan menjatuhkan hukuman pada permaisuri raja. Tapi, apa kalimat yang keluar dari mulut Yusuf saat vonis penjara itu diberikan? Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung (untuk memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” [QS Yusuf:33].

Semua orang tahu, kehidupan di penjara bisa disebut wilayah yang “panas”. Panas tempatnya, panas pula kondisi sosialnya. Tetapi, sekali lagi, Nabiyullah Yusuf justru mampu menakhlukkan penjara itu dan menjadikannya tempat berda’wah kepada para penghuni penjara lainnya. Penjara ternyata justru menjadi penempa iman dan penghalus budi bagi dirinya.

Begitulah, sampai akhirnya ia dibebaskan dari penjara lantaran diminta mena’wilkan mimpi sang raja. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi bendahara kerajaan. Yusuf sangat menyadari, bahwa urusan perbendaharaan adalah termasuk wilayah yang “panas”. Tetapi dengan percaya diri, ia menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang “hafidzun amin”, ahli menjaga dan dapat dipercaya. Ungkapan Yusuf itu bukan omong kosong. Apalagi sekedar haus kekuasaan atau gila pangkat. Kesuksesan dan ketangguhan Yusuf melewati wilayah-wilayah hidup yang “panas” semenjak kecil, merupakan garansi personal bagi jabatan yang diminta.

Yusuf memang layak memperoleh itu. Bahkan lebih. Karenanya, dikemudian hari ia menjadi raja, menggantikan raja sebelumnya. Tentang hal ini Alloh SWT mengungkapkan : “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saa ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [QS Yusuf:56].

Pelajaran terbesar dari kisah Yusuf adalah komitmen keimanannya yang tangguh menghadapi bermacam badai kehidupan, yang boleh dibilang semuanya berhawa “panas”, dari sudut pandang apapun. Yusuf AS sukses diuji dalam kekerasan. Ia juga lolos melewati ujian kelebihan secara fisik yang terkait dengan fitnah wanita. Ia juga berhasil mengatasi fitnah kekuasaan.

Begitulah, hidup ini seperti perjalanan panjang. Ada pos-pos genting yang penuh rintangan. Mereka yang selamat di pos itu, akan bisa melanjutkan perjalanan berikutnya. Tetapi mereka yang terjerembab, pasti akan tertinggal. Meski ia masih bisa mengejar, tetapi ia harus terlebih dahulu membersihkan diri.

Allohu akbar, bergetar rasanya hati ini ketika menuliskan kata demi kata. Sungguh, diri ini pun pernah mengalami dimana ujian itu datang dititik terlemah. Saat dimana diri ini terjebak disebuah lubang hitam. Pantaskah diri yang lemah ini menuliskan sedikit nasihat untuk sahabat-sabatnya? Pantaskah?

Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami, lindungilah kami dari hati yang tidak khusyuk, dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Ya Rabb, jadikanlah sebaik-baik umur kami diakhirnya, sebaik-baik amal kami di penghujungnya, dan sebaik-baik hari kami adalah saat bertemu dengan-Mu.

One thought on “Wilayah Hidup yang “Panas”

  1. Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami, lindungilah kami dari hati yang tidak khusyuk, dari ilmu yang tidak bermanfaat.
    Ya Rabb, jadikanlah sebaik-baik umur kami diakhirnya, sebaik-baik amal kami di penghujungnya, dan sebaik-baik hari kami adalah saat bertemu dengan-Mu.

    -amin-

    bersemangatLah dengan apa2 yg bermanfaat bagimu . ^

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s