Jangan Marah Lagi, Pliss…

Perubahan, suatu fenomena yang pasti terjadi dalam keseharian hidup kita. Entah berubah kearah kejelekan, atau kearah kebaikan. Semua kendali ada ditangan setiap makhluk yang bernama manusia. Oleh karenanya ia-lah sang pilot yang menentukan kearah mana “pesawat” dalam mengaruhi kehidupan.

Saya masih teringat benar dengan sebuah kritikan dari salah seorang sahabat saya. Ya, waktu itu dengan gamblang dia berkata kepada saya, “Mas, kamu itu kasar”. Memang saat dia mengatakan itu mungkin sedang dalam kondisi lelah atau boleh dikatakan bad mood. Tetapi tentu saya tidak boleh menganggap kritikan itu sebagai angin lalu saja, karena seperti yang saya sampaikan dalam tulisan “BERCERMIN”, bahwa mata yang penuh kebencian akan memancarkan keburukan. Siapa tahu yang orang lain katakan terhadap kita itu memang benar adanya.

Setelah kejadian itu, saya pun mulai mengintropeksi diri, benarkah yang sahabat saya itu katakan ? Kalaupun saya pernah marah atau pernah kasar kepadanya, bukankah itu juga ada sebabnya, toh saya juga manusia yang tak luput dari khilaf. Apalagi saat sahabat saya menyampaikan kritik itu, dia juga bernada kasar, pikir saya dalam hati waktu itu. Tetapi sekali lagi, saya tidak ingin mengabaikan sebuah kritikan, sekecil apapun, dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Mengambil segi positif dari sebuah pengingatan, saya ingin membuktikan bahwa yang dikatannya tidaklah benar, jikalau memang saya pernah berbuat seperti itu, tiada kata lain selain “memperbaiki diri”.

Mungkin kisah yang saya alami di atas pernah juga sahabat alami. Atau mungkin dalam bentuk yang lain dan dalam kisah drama kehidupan yang berbeda. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang berada disekitar kita pun juga turut berproses dalam pendewasaan maupun perubahan sifat kita.

Kendalikan Marahmu..!
Tentu kita masih ingat dengan sebuah hadits Nabi yang akrab dengan ade’2 TPA, laa taghdhob walakal jannah, jangan marah bagimu surga! Ya, hadits itu sering menjadi tameng bagi mereka ketika sedang dimarahi Abi atau Ummi-nya.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Ust. Sholikhin Abu ‘Izzudin, ada banyak resep untuk mengendalikan amarah. Salah satunya seperti nasihat dari Bu Kasur dan Pak Kasur, “Kalau marah silahkan menghitung sampai sepuluh sekali. Satu…dua…tiga…empat…lima…”

Atau memakai strategi unik begini. Kalau mau marah, baca Ta’awudz dulu,
“A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim…”

Kalau masih juga mau marah, baca istighfar dengan keras, tiga kali saja. “Astaghfirullahal adhiim…” Boleh juga dilantunkan ala Aa’ Gym atau model Emha Ainun Najib, “Astaghfirullah Rabbal baraaya…Astaghfirullah minal khataayaa…”

Masih mau marah, bacalah, “Subhaanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaaha illallaah Allahu Akbar…”

Masih marah? Ah, keterlaluan. Segera wudhu dan shalatlah. Masih marah-marah juga?, berarti perlu di-ruqyah syar’iyah..! Bismillah…bismillah…bismillah.🙂

Nah, masih mau marah juga? Jangan ya, pliss..

Rawat dan siramilah pohon-pohon cinta dan kasih sayang itu hingga ia terus bersemi, berkembang dan tidak layu ataupun mengering.

Sahabatku, mari bersikap lemah lembut terhadap siapapun. Saling memaafkan, karena memaafkan memang tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi dengan memaafkan bisa mengubah masa depan menjadi lebih baik. Teruslah menjalin tali silaturahim, apalagi sesama Muslim, janganlah memutuskannya.

Sahabaku tercinta, dimanapun kalian berada, ingatlah sebuah doa yang selalu menguatkan hati-hati kita, menguatkan langkah kita, lantunkanlah disetiap khusyuk doamu…

Yaa Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu,
bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu,
berpadu dalam membela syariat-Mu.
Yaa Allah,
kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu.
Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong.

Yaa Allah, kabulkanlah.

Yaa Allah,
dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.

Aamiin Allahumma aamiin.

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s