Ayo Kaya…!!!

Tidak bisa dipungkri, para dai itu berkelas-kelas. Makin tinggi kelasnya, maka jam terbang da’wahnya, tinggi badannya (lho… ko?), makin padat aja men. jadi semakin jauh pula jarak tempuhnyan. Tentu, semakin menggunung juga biaya yang diperlukan. Tapi bos, ini ni, salah satu enaknya, banyak pula relasinya. Nah, yang terkahir itu bisa menjadi modal untuk membangun ekonominya.Coba lu… lu… pada perhatkan deh cerita ini, ‘alkisah seorang mentor sebuah asistensi di fakultas ekonomi UNS, ingin mengajak adek-adeknya yang notabenenya mahasiswa baru untuk ikut asistensi lagi, dalam hatinya, “waduh pas AAI semester pertama yang wajib aja pada susah datengnya, gimana yang lanjutan AAI?, bourat deh kalo gini caranya”. Akhuna ini udah bingung. kalo dibilang mau dikasi materi tarbiyah islamiyah yang belum sempat tersampaikan, (soalnya untuk awal-awal susah sekali kalo langsung ngasi materi, akhirnya dia fokus pada kedekatan dengan adek-adek) paling pada ngeri duluan ngedengernya, dari judulnya aja udah ga ku… ku dah tu kuping mereka yang biasa denger lagu-lagu pop cinta. Bourat… bourat… apalagi ngarepin mereka dateng, s e – c a – r a… judulnya tarbiyah islamiyah gitu lho.

Akhirnya si asisten ini pun melakukan SWOT (bukan ‘sewot’, kalo ini artinya di jakarta itu “marah’). Otaknya diputar, atau apalah namanya, jungkir balik otak atau gelindingan otak, (Fadhdhol antum ta antumi deh, he… he… he).

Al akh ini mencari-cari, apaya, yang kira-kira adek-adekku ma krenyes dengan hal itu. Yang bakal dipengenin adek-adek dengan tingkat kemauan tinggi, whooo… berat.

Akhirnya, setelah berpikir ketemu deh jawabannya, apa coba?, ada yang tahu?,

Kayanya kalian juga menginginkan hal ini, makan GRATIS!!!, wah ternyata ketemu deh caranya.

Oh, langsung deh ni orang merogok koceknya sendiri. Dilihatnya, uang cuma tinggal 20 ribu rupiah, padahal kalo nraktir satu kelompok yang jumlahnya 9 orang, dengan makan ayam goreng tulang lunak minimal 6500 rupiah, berarti 9 dikali 6500 rupiah berarti…..  58500, wah, wah, wah, gimna caranya 20 ribu bisa bayarin makan seharga 58500???. Si mentor ini pun ga kehabisan akal, dia pun mulai menambah “lahan garapnya”, tak pelik, kocek temannya pun menjadi proyeknya,.

“Akh, gimana kabar antum, makin bersih aja muka antum” ujar si asisten merayu.

“apa?, ada apa? Ya makasi deh kalo memang bener gitu”, balas saudara seperjuangannya di BPPI (Lembaga Da’wah Kampusnya Fakultas ekonomi). Rupanya saudaranya ini sudah merasakan getaran-getaran hangat si calon “ada maunya’…

“Ana pinem duit antum dong 40 ribu, buat nraktir adek-adek asistensi”

“Ok deh” jawab saudaranya dengan gembira, kan saudara seperjuangan semangat berda’wah,, jadi ketika tahu bahwa uang itu akan digunakan buat asistensi, dia mempunyai ruuhulistijabah tinggi men.

Di satu sisi cerita ini menggambarkan bagaimana perjuangan untuk mengaktifkan asistensi atau mentoring. Tapi lo liat ga, ketika si asisten itu minjem duit ke saudaranya? Dari situ tergambarkan dengan jelas, gamblang, jamblang (eh, inikan nama buah yang penulis kenal di jakarta) bahwa salah satu pilar dalam menopang da’wah adalah kemampuan ekonomi. Itu baru satu kelompok, coba kalau 2 atau tiga?, nah lo…

Ok, itu adalah salah satu kasus dalam berda’wah, ternyata banyak agenda da’wah yang memerlukan kocek tebal, bukan sekedar dompet tebal dengan isi kartu-kartu mulai dari kartu nama sendiri, kartu nama orang, atau kartu-kartu lain. Tapi tebal dalam artian kuat secara moneter.

Ikhwah fillaah, maka dari itu, mari kita coba, membuat diri ini menjadi lebih mapan dalam moneter. Kalo antum-antunna lumayan mapan dan terus meningkatkan kemapanan itu, Insya Alloh itu bis membantu kegiatan da’wah antum wa antunna.

Coba kita lihat bagaimana sepenggal cerita sahabat Rasululloh SAW yang saya salin dari sebuah artikel, insya Alloh bisa menjadi inspirasi:

Suatu saat, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ……

Ummul Mu’minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah…..?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya .  .. Kata Ummul Mu’minin lagi: — “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya UmmulMu’minin … karena ada 700 kendaraan…… !” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandanganya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.
Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Kulihat Abdurrahman bin’Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!”

Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan… ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul..  ? Sebagian shahabat menyampaikan cerita Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah dan berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya….”. Kemudian ulasnya lagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla…..!” Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik….

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin  ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah …! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh kawna keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidakterkira, dengan hati yang puas dan rela … !

Gimana? Dah semangat untuk kaya??? Ayo kaya untuk bisa berjihad dengan harta, membantu da’wah. Ok?

by ichan-neoZulfikar

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s