Ekspresikan “Semangat Muda” Kita

Sekarang abad 21 dan “akhir sejarah” datang menghampiri sebagian besar semua lapisan masyarakat termasuk paera pemuda. Kini tinggal puing-puing bolsevhisme, fasisme, marxisme-sosialisme dan kemenangan liberalisme dengan demokrasi liberal dan pasar bebasnya sudah kita (terlanjur?) nikmati. Perlukah mengorbankan semangat muda dengan berbagai konsep dan idel-idelanya sebagaimana Tan-Malaka? Atau dengan perkataan lain mengajukan proposal klaim ideologios yang menawarkan masyarakat yang lebih unggul seperti polemik pasar demokrasi sosial beberapa waktu?
Sepertinya permasalahan bukan pada semangat muda itu sendiri dengan segala konsep (ideologisnya) tetapi pada arah dan bentuk dari semangat itu yang menjadi penting. Bukankah semangat itu adalah kebebasan diri masing-masing? Maka yang terjadi bukan untuk menentang yang dominan tapi untuk eksistensi diri dalam berbagai ekspresi anak muda sekarang.
Dengan eksistensi diri ini, kita melihat ekspresi pemuda dalam berbagai bentuk : aktivis, artis, akademis, penyair, pengemis, pengangguran, pengusaha (kapitalis), buruh, elektronik maniak, pembuat film indie, anak band, dan seterusnya.
Salahkah semua itu sehingga sebagian dari kita mendengar, “kita lebih bodoh dari generasi Soekarno_Hatta”? Disini anak muda diidentifiaksi dalam kotak pemikiran : aku berpikir, maka aku ada. Atau, sebagaimana kamus berkata. “Aku berontak, maka kita ada” yang menghendaki anak muda sebagai bagian elemen penting masyarakat yang tertindas arus neliberalisme? Tapi ada yang terlupa dari perkataan itu : semuanya berangkat dari “aku-yang untuk-ada” yang berarti kebebasan (atau otonomi) dari pribadi untuk ekstensi diri.
Ekstensi selama ini tidak bertentangan dengan norma yang berlaku, sah saja dilakukan oleh para penerus zaman (pemuda). Celakanya pada zaman yang serba modern ini, pemuda masih saja tergerus dengan Globalisasi yang menjerumuskan. kebebasan yang terlalu diidamkan pemuda malah membuat mereka lalai dengan tujuan awalnya sebagai penerus generasi sebelumnya. Itu sebabnya pemuda harus peka terhadap perubahan yang terjadi disekitarnya agar mereka dapat eksis dalam mengarungi samudera kehidupan. Mengedepankan ekspresi diri dan kegemaran yang disenangi, serta tidak terjerumus hal negatif wajib diusung oleh para pemuda saat ini.
Kita thau bahwa setiap kebebasan diri tidak akan pernah ada tanpa menghendaki ekspresi diri yang juga bebas. Maka disinilah anak muda seakan berteriak “aku berekspresi (dalam segala bentuknya), maka aku-mereka-kita ada”.

editorial-Kentingan Pers

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s