Goresan Pena Pejuang Kecil Ambon

Malam semakin larut, badan pun terasa lelah, entah karna cape’ atau memang karna saya masih dalam masa penyembuhan setelah 5 hari dirawat di RS. Akhirnya saya putuskan untuk menulis di Blog. Saya teringat akan tulisan oleh seorang pimpinan yang selalu memberi contoh tauladan yg baik, seorang suami yg sangat mencintai istrinya, seorang ayah yang rela menukar kenikmatan dunia demi bersama anak-anaknya…-Tulabi-

Sebuah goresan pena pejuang kecil di Ambon….

Peristiwa yang merubah hidup

Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar…Laailahailallahu Allahuakbar ..Allahu akbar Walillahilhamd…Langit dipagi yang cerah, menyambut hari dengan penuh suka Cita..Hari yang besar dan dinanti-nanti telah tiba, “Akhirnya waktu ini datang juga” batinku bersyukur. Terdengar suara takbir menggema dimasjid-masjid menyerukan kebesaran ilahi, Pagi ini 19 Februari 1999, lebaran telah datang kembali, aku dan ibu saling bertatapan mata dan kemudian menangis.. tidak berbeda dengan lebaran tahun yang lalu, Pagi ini terasa berat, suasana hati yang berada diantara kebahagiaan menyambut hari kemenangan idul Fitri dan kepedihan beridul Fitri tanpa ayah…. Ini lebaran kedua tanpa ayah, suasananya tidak akan pernah sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya, terasa sangat berbeda..terasa sangat sepi..tidak terasa mata yang dua tahun lalu menangis karena kepergian ayah, masih saja sekarang mengeluarkan air mata untuk kepergiannya…

Hidup tanpa seorang ayah menjadikan hari-hariku, ibu dan adik-adik terasa lebih berat, kami harus berusaha mencari nafkah sendiri untuk bisa melalui hidup. Ibu orang yang tidak pernah mau diam dan menyerah dengan keadaan, beliau berjualan baju dan pakaian-pakaian lainnya dari rumah kerumah, tetangga ke tetangga bahkan sampai keluar pulau. Untuk menambah pengahasilan ibu, aku menawarkan diri menjadi tukang cuci piring di warung nasi milik tetangga rumah kami, Alhamdulillah pemiliknya mau memahami dan memberikan kepadaku pekerjaan mencuci piring disore hari sepulang sekolah, selain mencuci piring terkadang aku pergi untuk berjualan koran dan majalah di pelabuhan ketika ada kapal laut penumpang yang berlabuh. Yah, hitung-hitung mendapat 10.000 setiap hari sudah lumayanlah untuk membeli makanan, kadang juga ketika sedang mendapatkan banyak uang dari hasil jualan, aku mengajak adik-adikku ke pasar untuk membeli es krim kesukaan mereka..

Pagi ini usiaku 15 tahun, pagi ini tahun kedua lebaranku tanpa ayah. Terlihat kesibukan rumah ketika akan berangkat bersama melaksanakan sholat idul Fitri di ”Lapangan Merdeka”. ”Fandi…Firman…ayo cepat mandi sudah hampir siang, kita berangkat sama-sama ke lapangan” teriakku memberi komando kepada kedua orang adikku agar segera bersiap-siap sholat Idul Fitri bersama-sama di lapangan. Fandi, saat ini telah berumur 10 tahun dan duduk dibangku kelas 4 SD, sedang Firman saat ini berusia 9 tahun dikelas 3 SD.

Setelah sholat Idul Fitri selesai seperti biasanya dari rumah ke rumah orang-orang biasanya bersilaturahmi dan maaf-maafan, di Ambon tempat tinggalku tidak peduli apakah Islam atau kristen, setiap Natalan dan Lebaran kami merayakannya bersama. Ketika natalan, di Rumah-rumah orang Islam pun memasak kue ataupun kacang cemilan untuk disediakan kepada tamu yang akan datang, begitupula sebaliknya kalau lebaran tiba. Serasa tidak pernah ada jarak antara Islam dan kristen. Agama bagi kami bukanlah sesuatu yang sensitif, bukan pula sesuatu yang penting. Ada rumah yang suaminya kristen dan istrinya Islam, ada juga yang Suaminya Islam sedang istrinya kristen, tentang anak-anaknya…yah kadang ke gereja sama maminya, kadang juga sholat jumat kemesjid dengan papinya, bukan suatu hal yang menjadi masalah di Ambon.

Aku dan adik-adikku seperti biasa setelah sholat Idul Fitri kemudian bersilaturahmi ke rumah keluarga-keluarga kami yang lain, biasanya dimulai dari jam 8 selepas sholat hingga jam 10 pagi kami kerumah-rumah keluarga dan tetangga sekitar. Baru saja aku mau keluar rumah dan berkunjung ketempat teman-teman yang lain, terdengar suara ibu dari belakang rumah mencegah dan meminta untuk dibantu membersihkan perabotan-perabotan rumah yang masih belum sempat dibersihkan dari hari-hari sebelum lebaran. Yah, ketimbang aku main keluar mendingan aku bantuin ibu pikirku. Setelah makan siang terdengar salam dari pintu depan ”Assalamualaikum” seketika itu juga tanganku segera mengambil kunci pintu yang terletak tidak jauh dariku dan sambil berjalan cepat membukaan pintu, terlihat beberapa teman sekelasku datang. Segera kubukakan pintu rumah dan mempersilahkan kepada mereka untuk masuk.

Tidak lama kami bercakap-cakap, dari belakang rumah ibu membawakan teh dan beberapa cemilan yang memang disiapkan untuk tamu yang akan datang. Setelah beberapa lama ngobrol kemudian Shinta, Theo, dan juga Rendy mengajakku sekalian untuk bersama melanjutkan kunjungan ke rumah ketua kelas kami Andrian. Shinta dan Randy beragama Islam seperti aku, sedang Theo beragama Kristen. Lalu kamipun bersama menuju rumah Andrian, ketua kelas kami.

Jarak antara rumahku dan rumah Andrian tidak begitu jauh sehingga hanya dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kami sudah sampai dirumahnya. Ditengah perjalanan kami menemui beberapa penduduk kampung lain yang sedang tawuran, tapi melihat kondisi ini rasanya bagi kami adalah hal yang biasa saja, ini seperti pekerjaan rutin para pemuda antar kampung, biasanya tawuran, tapi jarang ada yang membakar rumah. Seperti biasa saja kami melalui tawuran antar pemuda ini, karena biasanya pun memang begitu pekerjaan mereka dan biasanya pun akan kembali reda dengan sendirinya.

Tiba di rumah Andrian sekitar pukul 3 sore, dan alhamdulillah orangnya juga ada dirumah. Ayahnya Andrian adalah seorang pelatih sepak bola daerah Ambon, aku dan teman-teman sekelaspun terkadang dilatih oleh ayahnya, sedang ibunya seorang ibu rumahtangga. Belum lama kami mengobrol, tiba-tiba dari arah luar kampung terlihat banyak orang-orang berlarian masuk kerumah masing-masing sambil berteriak-teriak. Melihat keadaan ini aku dan teman-teman menjadi bingung, dan sempat oleh ayahnya Andrian kami diminta untuk tetap berada didalam rumah dan tidak boleh keluar. Sekitar 10 menit menunggu ternyata keadaan terlihat semakin kacau, semakin banyak orang yang berteriak-teriak dan semakin ramai. ”Pa, ada apa orang-orang dong lari samua maso?” tanyaku kenapa orang-orang berlarian kepada seorang bapak yang terlihat panik, ”Islam dong su serang katong, maso..maso..jang ada yang kaluar”, dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dia menjawab kalau mereka telah diserang orang-orang Islam dari seberang. Andrian dan keluarganya adalah muslim, namun tempat tinggalnya di daerah/Kampung (yang banyak) kristennya.

Rasa penasaranku terhadap apa yang terjadi diluar sana memaksaku untuk berlari keluar rumah dan melihat apa yang sedang terjadi, subhanallah…jalanan dipenuhi dengan orang-orang memakai senjata tajam dan saling menyerang. Diatas jembatan berukuran lebar 1 meter diatas sungai yang menghubungkan antara kampung Islam dan kampung kristen terlihat dua orang yang sedang duel dengan senjata masing-masing… ”oee abange, dong bakulai deng sapa?” (Bang, brantem sama siapa?) aku bertanya kepada seorang yang sedang bersiap menyerang dengan menggunakan parang, senjata khas maluku. Ternyata perkelahian antara dua kampung Islam dan kristen yang bersebelan dipisahkan oleh sungai, namun sampai saat itu aku masih saja belum menyadari kalau peperangan ini antara Islam dan Kristen, setahuku hanya antar kampung biasa. Kemudian aku kembali ke rumah andrian dan berlindung disana hingga merasa kondisi aman. Jam 9 malam setelah merasa agak aman dan tenang kondisinya aku memutuskan untuk pulang kekampungku, bersama dengan keempat teman-temanku yang lain. Shinta dan Theo tidak henti-hentinya menangis, setelah menelpon rumah masing-masing. Shinta baru mengetahui kalau rumah keluarganya telah dihancurkan, dilempar dan hampir saja dibakar, namun untunglah keluarganya diselamatkan oleh tetanggga-tentangga yang lain.

Sepanjang jalan perjalanan pulang, tidak pernah kami membayangkan sebelumnya melihat kota ambon dalam keadaan hancur berantakan, seluruh kota sepi bagaikan kota hantu, pertokoan-pertokoan di jalan-jalau utama juga hancur, sepertinya terkena lemparan batu. Sepanjang jalan pulang kami semua mulai merasa khawatir dengan kondisi keluarga masing-masing..

Terlihat dari jauh olehku ratusan orang yang berkumpul dan semuanya bersenjata, mereka berkumpul didekat sebuah gereja yang sangat diagung-agungkan dikota Ambon, Gereja Silo. Diriku tidak pernah menyangka, setelah mengantarkan kedua teman yang wanita untuk pulang, kemudian aku memutuskan untuk bergerak masuk kedalam gerombolan orang bersenjata parang dan tombak setinggi tubuhku. Diriku berada didalam gerombolan orang-orang itu, ratusan orang yang bersenjata, mereka menggunakan ikat kepala dan juga ikat lengan kain berwarna merah. Pikirku mereka sedang tawuran dengan kampung sebelah, aku memutuskan untuk melihat siapa yang menjadi lawan mereka. Tiba-tiba ”Jay, ose biking apa disini?” sebuah suara yang sangat aku kenal menyapaku. Wawan seorang kristen, teman baikku disekolah. Wajahnya seperti orang keheranan karena melihatku berada disana. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku ini adalah perang antara Islam dan Kristen. Dengan segera dia menarik tanganku dan menagajak aku ke tempat yang sunyi kemudian memintaku untuk pulang, namun betapa polosnya aku mengatakan kepadanya kalau aku akan membantunya melawan kampung sebelah.

Wawan kemudian memisahkan dirinya dariku, dan aku berjalan semakin menuju kearah gerombolan yang paling depan, terlihat olehku sekelompok orang lainnya berdiri didepan sekitar 50 meter dekat dengan kampungku, mereka terlihat sedang menyanyi-nyanyi, dan kebanyakan diantara mereka menggunakan ikat kepada kain berwatna putih. Ditengah, antara kedua kelompok terlihat pula beberapa orang tentara dengan senjata laras panjang berjaga-jaga memisahkan keduanya. Dari arah belakangku ada seorang yang berteriak kepada para tentara yang sedang berusaha membubarkan mereka ”Kami hanya ingin melindungi gereja kami pak..”. Setelah beberapa lama disana menunggu terjadinya bentrokan, ternyata tidak terjadi juga. Sekitar pukul 11 malam badanku terasa amat letih dan bermaksud untuk pulang kerumah untuk tidur, bagiku tawuran adalah hal yang biasa aku lakukan sejak masih kecil di Ambon, hanya saja mungkin tawuran kali ini sesuatu yang lebih besar dari biasanya pikirku.

Keletihan tubuhku telah mengalahkan rasa keingintahuanku yang lebih dalam tentang semua yang terjadi, yang aku pikirkan adalah pulang dan bisa tidur dengan lelap menghilangkan keletihan tubuhku, aku sudah tidak lagi ingin menganalisa kenapa tawurannya begitu besar kali ini, mengapa orang-orang memakai tanda ikat kepala, mengapa sampai tentara harus turun tangan dengan senjata laras panjang, dan kenapa pula persenjataan yang digunakan oleh orang yang menggunakan ikat kepala merah semuanaya seragam dan sama senjatanya. Semua pertanyaan-pertanyaan itu seakan-akan tidak aku pikirkan saat itu. ”lebih baik aku pulang saja” pikirku dalam hati.

Sesampai dikampung, Masya Allah ternyata sangat ramai…seperti layaknya ada pasar malam dengan penjual yang meneriakkan barang-barang jualannya. Beberapa meter dari rumahku, terlihat ibuku berlari sambil menangis dan memeluk tubuhku sambil memegang dengan erat kedua tanganku serta memintaku untuk tidak kemana-mana lagi. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi disini, namun sekali lagi keletihanku telah mengalahkan rasa keingintahuanku tentang ini semua, aku sangat letih dan sangat ingin tidur.. Baru beberapa langkah ingin menuju rumah, beberpa teman bermainku dirumah memanggil dan menceritakan tentang apa yang terjadi dari sore tadi ketika aku meninggalkan rumah. ”Katong habis bunu orang kristen, dong pung mayat katong taru sa dijalang-jalang, Barang dong jua bunu orang Islam..” terasa tidak percaya aku memelototi temanku yang sedang menceritakan peritiwa sore tadi kepadaku, dia menceritakan kepadaku kalau dia dan teman-teman yang lain baru saja membunuh beberapa orang kristen karena orang kristen juga membunuh orang islam, bahkan katanya mayatnya masih diletakkan di jalanan depan.

Tengah malam, aku masih dalam ketidakpercayaanku mendengar semua yang terjadi hari itu.. hatiku berkata, aku tidak ingin ikut-ikutan tawuran, ibuku pasti tidak akan mengijinkannya. Sementara ibuku mengurusi kedua orang adik-adikku, aku diajak oleh teman-temanku untuk melihat tubuh-tubuh tak bernyawa yang mereka habisi sore itu. Rasanya tidak percaya aku melihatnya, ”apa-apaan ini.?” tanyaku dalam hati, aku melihat banyak sekali tubuh tergeletak tak bernyawa dan darahnya bahkan masih mengalir dijalan-jalan… aku juga melihat seorang guru agama Islam disekolahku yang sedang memegang parang dan bersiap menyerang, perasaanku bertambah tidak enak, kali ini sepertinya rasa keingintahuanku yang mengalahkan rasa letihnya badanku..

”Ambil alat apa saja yang bisa digunakan untuk menjaga diri, parang, pisau, tombak atau apaun yang bisa dijadikan senjata” Seorang guru agama Islam yang seharusnya mengajarkan tentang keindahan Islam kepadaku, kali ini memintaku untuk mengambil senjata dan bersiap untuk berperang.. seketika itu pun aku mulai memahami segalanya yang sedang terjadi disini… aku berlari kencang masuk kerumahku dan mencari apa saja yang bisa aku gunakan, tapi tidak kutemukan satupun senjata karena semua senjata telah terpakai oleh paman dan juga keluarga yang lain. Aku hanya bisa menemukan sebuah kayu balok sepanjang satu meter dan beratnya kira-kira setengah kilogram, aku meminjam golok dari temanku untuk aku buat runcing ujung kayu yang aku pakai, kemudian dengan segera aku sudah berada di depan bersama pasukan lain yang telah siap berjaga-jaga dengan membuat pagar betis ditengah jalan raya yang dibatasi oleh tentara bersenapan laras panjang…

Subhanallah…aku baru saja menyadari, ternyata kelompok yang memakai ikat kepala merah tempat aku berada tadi adalah kelompok orang kristen, sedang kelompok lainnya yang memakai ikat kepala putih adalah teman-teman kampungku, orang-orang islam yang sedang bersholawat, dan bukan bernyanyi-nyanyi seperti yang aku kira… subhanallah…. Allahuakbar.

Malam semakin larut, kondisi semakin tidak bisa dikendalikan, kedua kelompok semakin banyak pendukungnya, semakin banyak orang-orang berdatangan mendukung kelompoknya masing-masing.. aku teringat akan wawan ketika dia memintaku untuk segera pulang, ternyata aku semakin menyadari segalanya yang tengah terjadi..baru saja ketika aku telah berada diantara kedua kelompok yang siap berperang…

Diriku berdiri dibarisan paling depan, aku mencoba mengenali beberapa orang yang berada disamping kiri dan kananku, kedua lutut kakiku terasa lemas untuk berdiri…jantungku terasa berdetak dengan sangat kencang..perasaanku berada diantara takut dan bersemangat, aku tidak bisa menyembunyikan kalau aku saat itu merasa takut, namun sholawat yang senantiasa dilantunkan membuat seluruh tubuhku terasa bergetar dan memiliki semangat untuk tetap menahanku berada disana bersama teman-temanku yang lain… Ketika suasana semakin memanas, kedua kelompok semakin banyak dan berani untuk tetap maju melangkah saling mendekat, jarak keduanya hingga hanya beberapa meter, terdengar tembakan beberpa kali dilepaskan ke udara oleh tentara sebagai peringatan untuk tidak maju…..

Keadaan semakin tidak bisa dikendalikan, kemudian dengan tiba-tiba kami telah berada hanya berjarak beberapa meter dengan lawan, dan tidak bisa ditahan lagi, peperangan pun pecah ditengah malam. Diriku berlari maju bersama teman-teman yang lain kearah kelompok orang kristen, aku berusaha mengayun-ayunkan kayu balok yang aku pegang kesemua arah, berusaha mengenai orang-orang kristen yang kocar-kacir berlarian… aku tidak lagi memikirkan betapa tajamnya parang yang mereka pegang juga panjangnya tombak ditangan mereka, benakku seakan-akan ingin meneriakkan ”Pergi kalian, menjauh dari kampung dan rumahku, menjauh dari keluargaku…” Tidak boleh ada dari kalian yang menyentuh keluargaku, secuil dari anggota tubuh keluargaku pun tidak…

Malam bertambah panas, suara tembakan dari pistol dan senjata laras panjang terdengar berulang-ulang…”Allahuakbar…Allahuakbar…” Aku dan teman-teman terus bergerak maju mengejar kelompok kristen, hingga….. ”Dooor..” Satu orang temanku yang berada tepat didepanku terjatuh, tersungkur ketanah..kepalanya terkena tembakan dari polisi kristen… Seketika itu juga aku dan teman-teman yang lain berusaha menarik tubuhnya yang tergeletak ditanah dan mencoba membawanya kembali berlari memasuki kampung.. ”Dor…Dor…” kami berlari tak karuan dikejar beberapa polisi sambil memegang pistol membantu pasukan kristen… kami berlari mundur tanpa komando, setiap orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing, hingga pasukan kristen berhasil masuk ke daerah kampungku..mereka melompati pagar dan memasauki wilayah masjid Al-Fatah….hati kecilku menangis ”Ya Allah habislah kami…mereka (Pasukan kristen) telah menang….”..diriku hanya berdiri melihat pasukan kristen yang semakin banyak memasuki kawasan muslim, pertahanan terakhir kami. Tidak ada lagi tempat untuk mundur…ini sudah yang terakhir, dibelakang kami lautan…tidak ada lagi tempat untuk lari dan bersembunyi dari incaran pasukan merah…

Kepalaku tertunduk, meresapi kekalahan, kemudian terbayangkan dipikiranku apa yang nantinya akan terjadi karena kekalahan ini.. habislah kami orang muslim…ketika diriku terpaku merenungi kekalahan, jauh dari arah depan terdengar teriakan tabkir berulang-ulang ”Allahuakbar… Allahuakbar…Maju….” aku mengangkat tubuhku dari tanah aspal ditengah jalan dan melihat kearah depan. Orang-orang kristen yang tadinya telah memasuki wilayah mesjid kini semuanya berlarian tunggang langgang keluar melompati pagar masjid. Melihat moment itu, aku dan teman-teman lainnya tidak tinggal diam dan kami pun kembali mengejar dan berhasil mengusir pasukan kristen hingga ke daerah mereka…Allahuakbar.. Tidak tahu kekuatan apa yang telah membuat pasukan kristen yang awalnya telah menang dan berhasil memasuki wilayah mesjid, tiba-tiba berlari seperti orang ketakutan melihat setan… Ternyata Allah Swt telah memberikan kepada kami apa yang telah dijanjikan-Nya..sungguh siapa yang berjuang di Jalan Allah, Allah pasti akan membantunya… Allah pasti akan membantunya…dan Dia tidak akan pernah mengingkari…

Diriku sudah tak lagi memikirkan keletihan yang sebelumnya sangat berat terasa membebani tubuhku.. Pertempuran terjadi hingga pagi pun tiba, sekitar jam 5 banyak berdatangan pasukan keamanan dari marinir yang kemudian memisahkan kedua pasukan.. Namun kami tetap berjaga-jaga jangan sampai kebobolan. Senja itu aku memutuskan kembali kerumah dan bermaksud untuk beristirahat menenangkan diri. Tiba dirumah seperti biasa, ibu menanyakan banyak..”Dari mana saja kamu nak..?” ”Lain kali jangan ikut-ikutan lagi..” yah, akupun memahami perasaan seorang ibu yang tidak menginkan terjadi apa-apa terhadap anaknya. Pertanyaan ibu aku biarkan begitu saja, tidak aku jawab dan hanya sedikit senyum dari sisa-sisa tenaga yang masih tersimpan… kemudian aku naik ke kamarku dilantai dua dan tidur…

Pukul 8 pagi..”Nak..nak bangun nak.., kamu tolong bantu orang-orang didepan.. orang kristen sudah masuk kampung dan membakar rumah-rumah…” Nyawaku belum terkumpul semuanya, masih diantara tidur dan terbangun, kata-kata ibu terdengar pelan.. mataku terbuka melihat sejenak kewajah ibu..dan aku baru bisa memahami maksud ibu setelah beberapa detik lamanya.. ”Subhanallah, ibu sudah merelakan aku” hatiku berkata, tidak menunggu lama aku langsung melompat dari tempat tidurku dilantai dua ke lantai dasar dengan segera, kemudian mengikat barang-barang yang bisa diselamatkan dengan kain untuk dibawa mengungsi ke masjid. Sambil memikul beberapa barang yang bisa dibawa, aku juga menggandeng nenekku, ibu dari ibuku, yang sudah berumur dan sulit untuk jalan, apalagi harus berlari dalam keadaan seperti itu. Terasa sangit pedih didalam hatiku.. terasa sakit menerima perbuatan orang kristen ini…. sambil berlari menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan, aku tidak bisa menyembunyikan airmata yang keluar menetes karena kepedihan yang terasa…sampai-sampai didalam benakku aku berjanji akan menghabisi setiap orang kristen yang aku temui nanti…

Setelah mengungsikan ibu dan nenekku, Aku telah siap kembali berdiri didalam pasukan bersama teman-temanku, menggunakan celana panjang jeans dan kaos tanpa beralaskan sepatu atau sendal, aku memberanikan diri dengan berbekal sebuah golok pinjeman dari teman. Aspal terasa semakin panas membakar kaki, namun tidak mengurungkan niatku untuk bersama teman-teman yang lain berusaha melindungi rumah-rumah kami dari pasukan merah yang semakin mendekat.. Jarak antara kami dan mereka sekarang sekitar 20 Meter, aku lihat kearah kananku, terlihat Fandi dan Firman juga ikut dalam barisan itu…Subhanallah mereka masih terlalu kecil untuk ini semua…hatiku menangis. Salah seorang dari pasukan muslim maju ke tengah-tengah sambil mengacungkan pisau dan meminta adu tanding satu lawan satu..baru saja dia berteriak untuk adu tanding, sebuah busur panah melesat dari arah pasukan merah, tepat mengenai telinga seorang dari pasukan muslim, dan tanpa menunggu lagi..pagi menjelang siang itu, perang kotapun pecah…

Banyak diantara teman-temanku yang menjadi korban siang itu…peperangan terjadi selama tiga hari tiga malam.. tidak henti-hentinya korban berjatuhan, suara tembakan dari tentara dan polisi pun terdengar seperti banyaknya air hujan yang jatuh mengenai atap rumah..Pada hari kedua, aku merasa sangat letih, kedua telapak kakiku terkelupas karena bergesekan dengan aspal selama dua hari, aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat sebentar pada hari kedua, tapi…melihat teman-teman lain yang terus berjuang, tak sampai hatiku meninggalkan mereka.., aku kemudian memaksakan diri untuk turun ke lapangan bersama pejuang yang lain…tiga hari tiga malam pertama yang sangat berat…perang baru bisa dikendalikan pasukan keamanan dari TNI dan Polisi setlah banyak bantuan tenaga tentara yang didatangkan dari surabaya dan makasar..

Sungguh tiga hari pertama yang melelahkan, tidak ada waktu yang luang bahkan hanya untuk sekedar menyantap makanan mengisi perut, semuanya terjadi begitu cepat.. rumah terbakar dimana-mana..mayat tercecer diemperan-emperan toko…darah mengalir dijalan-jalan…korban luka-luka memenuhi setiap ruangan rumah sakit hingga ke setiap bagian rumah sakit dipenuhi korban luka-luka dan meninggal dunia..semuanya terjadi begitu cepat.. Pada sore harinya, ketika suasana mulai terkendali, korban meninggal dunia diantarkan jenazahnya bersama-sama menuju ke pemakaman..pemakaman yang saat ini diberinama ”Makam Syuhada”… seindah-indahnya tempat peristirahatan yang aku inginkan… tempat yang ketika berkunjung kesana akan selalu mengingatkan kembali diriku akan hari-hari yang penuh dengan perjuangan…

Dua hari yang tenang setelah perang terjadi, kemudian terjadi perang lagi setelah itu…kembali lagi ke hari-hari penuh perjuangan, namun kali ini kami telah lebih siap, namun kali ini kami sudah lebih lengkap persenjataan yang kami buat sendiri… kali kedua ini kami tidak akan mundur lagi…kemudian perangpun berlangsung hingga berhari-hari.. rumahku pun habis terbakar, namun kemudian bisa kami bangun lagi setelah perang usai.

Setelah perang usai, ibu memutuskan bahwa aku harus tetap sekolah, kemudian akupun merantau seorang diri kejakarta untuk melanjutkan sekolah.. bermula di jakarta aku pun belajar banyak tentang Islam, dan terutama tentang Jihad.. aku mulai gemar mengikuti pengajian-pengajian, mendengarkan ceramah-ceramah agama.. Rasanya sepertinya aku telah menemukan ”bentuk asli” jati diriku di jakarta.. aku mulai dekat dengan pengurus-pengurus masjid dan Rohis…Rasanya seperti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku temui di ambon..islam yang sesungguhnya, bukan islam di ambon yang menyamakan semua agama dan tidak membeda-bedakan aqidah…

Hari-hariku dijakarta aku penuhi dengan belajar dan mengaji, pertama kali merantau memang terasa sulit rasanya, di jakarta kadang makan kadangpun tidak.. namun diriku meyakini sepenuhnya bahwa Allah lah yang menjaga diriku, memberi aku makanan dan Dia tidak akan mendzolimi hambanya…Setelah lulus dari SMU 13 di Jakarta utara, akupun kemudian melanjutkan kuliahku di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Solo. Kehidupanku berubah drastis 180 derajat dari kehidupan di Ambon.. Aku tidak lagi suka berkelahi seperti masa-masaku di Ambon, sholat lima waktuku mulai aku jaga walau pada awal-awalnya sering bolong, aku mulai memahami betapa berdosanya aku ketika diambon dulu sering bersuara keras terhadap ibuku.. tidak ada lagi kata-kata kasar yang keluar dari bibirku seperti sehari-harinya aku di Ambon… cara berbicaraku rasanya menjadi lebih sopan dan halus..tidak ada lagi kasarnya ambon pada sifatku, tidak ada lagi kerasnya ambon pada tingkahku…, aku sangat bersyukur. Allah telah mengenalkan kepadaku Islam melalui peristiwa ini… Allah telah memberikan aku ilmu melalui cara yang tidak banyak didapati orang lain…Subhanallah, Dia lah Allah yang maha benar juga maha mengetahui hamba-hambanya…

Saat ini aku telah menikah dan memiliki seorang putra, Muhammad Fiidinillah Azis Saleh, Terimakasih kepada istriku tercinta Andina widiastuti, kecantikan dirimu dan keihklasan hatimu mendampingiku dalam kehidupan yang sulit telah membuat para bidadari syurga merasa iri dan cemburu kepada mu…

”Fainnama’al ’usri yusraan, innama’al ’usri yusraa”

”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”


Pekanbaru, 15 Juni 2006


Fitra Jaya Shaleh

7 thoughts on “Goresan Pena Pejuang Kecil Ambon

  1. subhanalloh sebuah kisah yang cukup mengharukan😦

    syukron jazkllah semoga ini bisa memberikan ‘semangat baru’ bagi setiap muslim di negri ini, dan tidak sekedar menjadi seorang muslim yang ‘manja’.

    Cayo smangat!!! Allohuma`ana

  2. Alhamdulillah kisah di atas bisa membangkitkan semangat baru kita.

    Ketika para pemuda sekarang telah teracuni bangsa barat, maka kita semagai pemuda Islam, tampillah kedepan…

    Jika ada 10 orang yg berperang di jalan Alloh, pastikan kita termasuk di dalam barisan itu..

    Allohu Akbar….

  3. Subhanalloh….euhem…big boss spidernet..cayo…cayo..semangat para pejuang islam…Allahhu akbar…

  4. subhanallah……ceritanya bagus benar menyentuh sisi kemanusiaan… baiknya dibuat novel based from true story……. aku juga pernah mengalami pengalaman ketika di ambon pernah ditangkap, di curigai n di interogasi oleh aparat kafir dikarenakan aku seorang muslim karena habis sholat aku tidak melepas peci/songkok putih uhuhuhukkkkhuhk uhuk para kafirin ternyata lebih paranoid bila ada seorang muslim……pd waktu itu hanya bisa pasrah apapun yang terjadi aku hanya bisa berserah diri uhuhk uhuhk uhuhk

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s