Harusnya menulis itu tidak akan kehabisan ide, karena setiap saat, setiap kejadian bisa kita tuliskan, itu sumber ide. Menulis itu dari hati, kalau ingin menulis ya menulis aja, ga’ usah terbebani ini itu, tidak perlu berfikir tulisan kudu bagus kudu baik. Itu semua urusan nanti.
Hyufff,,, itulah beberapa nasihat dari sahabat penulis (blogger) yang saya kenal. Nasihat-nasihat itu sebenernya bukan kali pertama saya dengar, dengan kata lain, sudah berkali-kali saya dengar. Tapi apa yang terjadi saat ini, ada apa dengan saya? Sepatah kata entah enggan tersapa. Sederet kalimat sungguh sulit tersurat.
Masih bertanya pada diri, mengapa hanya sekedar menulis saja tak mampu? Padahal tanpa terbebani “harus baik”, “harus berkualitas”, “harus ini”, “harus itu”…. TIDAK…!
Yang lebih menyedihkan ketika saya juga sulit menuliskan target-target mingguan, sulit menyusun rencana tuk gapai cita.
Ya, selama beberapa hari, saya hanya hanyut dalam rutinitas seperti tak bermakna. Dan masih bertanya, “mengapa aku tak bisa menulis?”.
Ya Rabb… lirih terdengar, namun begitu kuat terasa, hati nan pasrah pada yang mencipta.
Satu per satu saya ingat detail hari-hari yang berlalu. Tiap kegiatan kemudian makin nampak dihadapan.
Ya Rabb, semakin teringat, semakin sedih. Ada beberapa aktifitas yang terlupa atau sengaja dilupakan, kemudian entah darimana muncul pertanyaan…
“sudah berapa lembar ayat Tuhanmu yang kau baca hari itu?”
“berapa kali kau berkumpul, berjama’ah dengan saudaramu di rumah Tuhan?”
“berapa rupiah HAK orang lain atas hartamu yang kau tunaikan atasnya?”
“mana dzikir pagi dan petangmu?”
“sudahkan kau penuhi kebutuhan jasadmu, atau kau dzalimi tanpa memperdulikannya, tanpa olahraga?”
“mana….mana…yang lain…?”
Ya Rabb, itu baru secuil amal tertinggal, namun Kau ingatkan begitu dahsyat dengan terbungkamnya fikir. Bagaimana jika sebongkah amal dilupakan?
Kemudian melalui aktifitas menulis itu, terbongkarlah sebelah jurang penghadang. Ternyata menulis bisa jadi parameter kondisi hati dan amal yaumi. Ketika ia terkurang menulispun serasa meregang, pun juga kebaikan sukar tertuang.
Sebuah pencerahan diri untuk berkaca bukan hanya pada cermin, tapi juga pada hati dan tulisan
Posted by anazkia | 8 December 2011, 8:39 amiya mbak
Posted by Andrey Ayyasha | 10 December 2011, 3:15 am